Category Archives: Umat

Soal di biaya sertifikat MUI…ehmm hmm

 

Daripada sibuk mengkafirkan  orang lain, coba ya beresin dulu urusan dapur ente !.Apa urusan sertifkat MUI sudah pernah diaudit publik ??  Kalau sampai trilyunan mantap banget tuh..buat para petingginya.. siapa tahu si Briziek kecipratan tuh..

Hallooo MUI gimana tuh kabarnya  “emas” dari  PT Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS…

 

Sumber Dari media pendukung ISIS  (http://www.voa-islam.com/read/syariahbiz/2016/10/20/46816/dituding-pungut-biaya-sertifikat-480-triliyun-lppom-mui-salah-hitung-sudah-diklarifikasi-pada-2013/)

Dituding Pungut Biaya Sertifikat 480 Triliyun, LPPOM MUI: Salah Hitung Sudah Diklarifikasi pada 2013

JAKARTA (voa-islam.com)–Sejak Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan pandangan keagamaan atas penghinaan al-Qur’an oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, berhembus rumor bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) melakukan pungutan 480 Triliyun dari biaya sertifikasi halal.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Lembaga Pengkajian Pangan Obat-Obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI, Lukmanul Hakim meluruskan isu tersebut. Menurutnya, isu tersebut sudah diklarifikasi saat Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)-RI saat menyusun Undang-Undang Jaminan Produk Halal pada tahun 2013.

“Itukan sebetulnya pendiskusian yang salah perhitungan oleh anggota dewan di Komisi VIII, waktu kami sedang RDPU. Dan sudah diklarifikasi,” kata Lukman kepada Voa-Islam, Jakarta, Senin (17/19/2016).

Salah satu anggota Komisi VIII, kata Lukman, pada saat itu melakukan pola penghitungan dengan mengkalikan jumlah produk yang beredar di pasar dengan biaya sertifikasi.

“Padahal biaya sertifikasi itu basisnya bukan produk, tapi basisnya sertifikat. Jadi, dalam satu sertifikat itu bisa 100 produknya. Jadi perhitungannya salah,” jelas Lukman.

Lukman menegaskan, pada saat itu dirinya telah mengklarifikasi kepada Komisi VIII saat RDPU. “Kalau rapat itu dicatat oleh Komisi VIII, mestinya ada itu dikasih ke saya. jadi pola penghitunganya salah,” ungkap Lukman.

Lukman juga membantah isu bahwa seolah-olah LPPOM MUI tarik ulur dengan Kementerian Agama. “Kita tidak pernah tarik ulur dengan Kementerian agama, jadi jangan seolah-olah mendapat yang dari situ,” ujar dia.

Menurut Lukman, jumlah sertifikat halal MUI 2016 sebanyak 1500 lembar, tinggal dikalikan dengan biaya sertifikasi sebesar 2 juta rupiah. Hanya itulah uang yang diserap oleh MUI.

Lukman juga menegaskan, bahwa sertifikasi halal pada saat ini bersifat voluntary. Sehingga menurutnya wajar bila MUI mendapat biaya jasa dari pengujian produk halal.

“Sekarang sifatnya voluntary, apa bedanya MUI dengan lembaga sertifikasi ISO, mereka juga voluntary bahkan mereka perusahaan, tidak ada bedanya. Itu bukan pungutan dari masyarakat tapi biaya jasa,” tandasnya.* [Syaf/voa-islam.com]

Advertisements

Ada apa ya dgn masyarakat Indonesia ?

70 tahun merdeka kaum intelek kita masih percaya tahayul sama tukang tipu.. menyedihkan sekali kualitas Sdm bangsa yang besar ini.. pendidikan kita hanya diajar baca tulisa dan menghapal ! Jadi manusia yang tidak dapat berpikir ckxk.. menyedihkan di abad 21 masih ada yg percaya sama Jin dan mahluk halus..

5 Kemiripan Dimas Kanjeng Taat Pribadi dan Gatot Brajamusti

nasional.tempo.co

Sep 30, 2016 2:09 PM

5 Kemiripan Dimas Kanjeng Taat Pribadi dan Gatot Brajamusti
5 Kemiripan Dimas Kanjeng Taat Pribadi dan Gatot Brajamusti

Penangkapan yang dilakukan polisi terhadap pimpinan Padepokan Dimas Kanjeng, Taat Pribadi, di Kabupaten Probolinggo pada Kamis, 22 September 2016, mengingatkan kita pada penangkapan Gatot Brajamusti di Mataram, Lombok, pada 28 Agustus 2016.
Keduanya diduga melakukan tindak pidana kriminal. Taat diduga terlibat dalam tindak pidana pembunuhan dan penipuan penggandaan uang. Sedangkan Gatot tertangkap tangan karena memiliki narkoba dan terakhir, diduga melakukan pemerkosaan anak di bawah umur.
Ada persamaan-persamaan lainnya antara Taat dan Gatot, yaitu:

Padepokan
Baik Taat dan Gatot atau pengikut-pengikutnya menggunakan kedok agama untuk menjalankan kegiatan kriminal mereka. Taat menjadi pimpinan Padepokan Dimas Kanjeng di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, dan Aa Gatot menjadi bos di Padepokan Baramusti di Jalan Cikiray, RT 04 RW 07 Kampung Rambay, Desa Sukamanah, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Sakti
Taat dan Gatot atau para pengikutnya mengaku keduanya memiliki ilmu sakti mandraguna, Taat untuk melakukan penipuan penggandaan uang dan Gatot barangkali untuk memikat wanita-wanita yang diinginkannya. Bahkan keduanya mengaku berkawan akrab dengan jin. Gatot misalnya, mengaku ia kadang-kadang adalah jin atau uncle.

Pengikut

Taat dan Gatot sama-sama memiliki pengikut atau murid yang fanatik dan yang menakjubkan, di antara pengikut-pengikutnya itu adalah orang-orang yang terkenal, tokoh masyarakat.

Pada kasus Taat, ada Marwah Daud Ibrahim yang merupakan doktor lulusan Amerika Serikat, mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat, serta pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam dan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia. Pada kasus Gatot, sebut saja ada artis Elma Theana dan penyanyi Reza Artamevia.

Istri

Baik Taat maupun Gatot diketahui memiliki lebih dari satu istri. Bahkan khusus Aa Gatot, padepokannya lebih banyak dihuni para wanita.

Modus
Keduanya menggunakan modus tepa-tepu yang membuat sebagian orang terjerat. Taat, yang mengaku memiliki ilmu untuk menggandakan uang, menggunakan sistem multilevel marketing (MLM) dalam praktek penipuannya. Perekrutan dengan sistem gaet-menggaet orang itu mengenakan tiap orang harus menyetor Rp 25 juta.
Sedangkan Gatot menggunakan narkoba, yang disebutkan sebagai makanan jin atau aspat, untuk memikat hati dan mengikat para pengikutnya.

Akademikus dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra, menilai maraknya kasus dugaan penipuan dan pelecehan berkedok agama, seperti yang dilakukan Gatot Brajamusti dan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, merupakan sebuah gejala kultus.

Simak: Marwah Daud Ibrahim Bandingkan Dimas Kanjeng dengan Habibie

“Ini disebut sebagai kultus yang dipimpin con man (penipu), orang yang menyalahgunakan kepercayaan orang lain kepadanya,” kata Azyumardi kepada Tempo, Kamis, 29 September 2016.

Azyumardi menjelaskan, pengkultusan masih terjadi di masyarakat karena terjadi krisis karakter. Banyak yang menempuh jalan instan dalam menyelesaikan masalah, seperti utang-piutang, ambisi politik, dan jabatan.
Azyumardi mengatakan muncul penipu atau con man dengan menciptakan kultus untuk membangun karisma melalui penampilan, kepintaran berbicara, dan retorika menggunakan argumentasi agama.
“Membuat orang-orang tersebut percaya atau taklid buta sehingga merasa yakin dengan hal-hal yang too good to be true, seperti menggandakan uang,” ujarnya.
GRACE S. GANDHI 
(Sumber: Tempo, PDAT, Antara, dan sumber lainnya)

+++++

JUMAT 30 SEP 2016, 15:48 WIB

Akan Dipanggil MUI, Marwah Tetap Setia ke Dimas Kanjeng: Saya Siap Undur Diri

Triono Wahyu Sudibyo – detikNews
Akan Dipanggil MUI, Marwah Tetap Setia ke Dimas Kanjeng: Saya Siap Undur DiriFoto: Ari Saputra

JakartaPengurus MUI sekaligus ICMI, Marwah Daud Ibrahim, akan dipanggil MUI terkait keterlibatannya dalam aktivitas Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Marwah mengaku siap mundur dari MUI.

“Hari ini atau besok, saya siap undur diri. Atas petunjuk Allah, Bismillah,” kata Marwah yang jadi Ketua Yayasan Padepokan Dimas Kajeng ini kepada detikcom, Jumat (30/9/2016).

Marwah mengatakan memang banyak yang tidak mengerti soal Dimas Kanjeng. Tentu saja pemahaman itu tak bisa dipaksakan. Dia bisa memaklumi.

“Nggak apa-apa dihujat. Nabi saja mengalami itu,” kata Marwah.

Perempuan kelahiran Soppeng Sulawesi Selatan dan bergelar profesor ini meyakini Dimas Kanjeng tak terlibat pembunuhan eks pengikut, Abdul Gani dan Ismail Hidayah. “Kalau cuma soal kedok terbongkar, lalu ada pembunuhan, berapa banyak orang dibunuh tiap hari?” kata Marwah.

Marwah mengaku mengenal betul Dimas Kanjeng. Dia bergabung sejak 2011 dan sudah berulang kali menyaksikan ‘kemampuan’ pria yang kini jadi tersangka pembunuhan itu. Sebaliknya, menurut dia, banyak orang yang ragu karena belum melihat secara langsung.
(try/van)

 

+++++++++++++++++++++=

JUMAT 30 SEP 2016, 14:36 WIB

Kata Marwah Daud soal Foto Dimas Kanjeng Bersama Jokowi dan Panglima TNI

Triono Wahyu Sudibyo – detikNews
Kata Marwah Daud soal Foto Dimas Kanjeng Bersama Jokowi dan Panglima TNIFoto: Istimewa

Jakarta – Beredar foto-foto Dimas Kanjeng Taat Pribadi (46) dengan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dan Presiden Joko Widodo. Ada yang percaya, ada yang menduga itu rekayasa atau editan.

Ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng, Marwah Daud Ibrahim, termasuk orang yang percaya. Biasanya, ada sultan (koordinator pengikut) atau santri yang mengajak Dimas Kanjeng bertemu pejabat atau orang penting. Nah, saat itulah, pengambilan gambar dilakukan.

“Sebetulnya, beliau (Dimas Kanjeng) tidak ingin, tapi kadang tidak bisa menolak,” kata Marwah kepada detikcom, Jumat (30/9/2016).

Marwah Daud IbrahimMarwah Daud Ibrahim

Marwah menilai wajar seseorang berfoto dengan pejabat. Banyak yang melakukannya. “Jadi kalau beliau berfoto dengan pejabat, ya nggak aneh juga kan?” kata perempuan bergelar profesor ini.

Foto Dimas Kanjeng bersama Panglima TNI Gatot Nurmantyo terpampang di kalender di Padepokan. Dituliskan, foto itu diambil di Istana Negara. Saat dikonfirmasi, Gatot mengaku tidak tahu. Namun kata Gatot, kadang memang ada orang-orang yang tidak dikenalnya mengajaknya berfoto saat ia mengikuti sebuah acara.

Foto: IstimewaFoto: Istimewa

“Kalau wartawan nggak kasih tahu (Dimas Kanjeng), saya nggak tahu,” kata Gatot saat berziarah di makam Jenderal Sudirman Yogyakarta, Kamis (29/9) kemarin.

Selain foto dengan Gatot, juga ada foto Dimas Kanjeng menyalami Jokowi dengan latar belakang Wapres Jusuf Kalla di Istana Negara. Belum diketahui keaslian foto tersebut. “Saya tidak tahu. Saya tidak mau komentar,” kata Juru Bicara Presiden, Johan Budi.

Sebelumnya, Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifudin mengaku belum bisa memastikan keaslian foto Dimas Kanjeng dengan sejumlah pejabatitu. Dia mengatakan bisa saja foto tersebut hasil rekayasa. “Ya bisa saja untuk kepentingan tertentu,” katanya.
(try/iy)

++++++

JUMAT 30 SEP 2016, 21:28 WIB

Setor Rp 200 Miliar ke Dimas Kanjeng, Keluarga ini Dapat Kertas dan Emas Palsu

Rois Jajeli – detikNews
Setor Rp 200 Miliar ke Dimas Kanjeng, Keluarga ini Dapat Kertas dan Emas PalsuPolisi menunjukkan kertas palsu yang disebut Dimas Kanjeng dapat berubah menjadi uang (Foto: Rois Jajeli/detikcom)
Surabaya – Muhammad Najmur melaporkan Dimas Kanjeng Taat Pribadi ke Polda Jatim. Dimas Kanjeng dilaporkan karena ibu Najmur sudah menyetor uang Rp 200 miliar untuk digandakan.“Awalnya saya kurang paham, dari mana Ibu (Najmia) saya kenal dengan dia (Dimas Kanjeng Taat Pribadi),” kata Najmur di Gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim, Jalan A Yani Surabaya, Jumat (30/9/2016).

Najmur sendiri mengaku tidak mengenal Dimas Knjeng. Tapi Najmur pernah mengantarkan ibunya ke Padepokan Dimas Kanjeng di Wangkal, Probolinggo. Saat itu dia bersama keluarganya membawa 5 koper yang masing-masing berisikan uang Rp 2 miliar.

“Saya hanya mengantarkan ibu saja. Saya tidak tahu isi tas koper yang dibawa. Saya tahu tas itu berisikan uang ketika diserahkan dan dibuka di sana (Padepokan Dimas Kanjeng),” tutur Najmur.

Setelah menyerahkan uang miliaran rupiah, mereka hanya mendapatkan segepok kertas yang dipotong ukurannya menyerupai ukuran uang kertas, emas batangan, hingga air yang disebut untuk pengobatan.

Saat berada di padepokan, Najmur bertemu dengan Dimas Kanjeng dan diminta meyakini ilmu menggandakan uang. “Saya disuruh yakin, tapi tidak bisa yakin,” ujar Najmur.

Saat itu pihak keluarga diberikan tumpukan kertas HVS warna putih polos yang potongannya menyerupai uang. Namun kertas tersebut tidka pernah berubah menjadi uang seperti yang dijanjikan Dimas Kanjeng.

“Dari awal saya sudah tidak yakin. Setelah berjalannya waktu, terbukti ketidakasliannya. Sampai sekarang ya masih tetap seperti ini,” ujarnya.

Najmur sudah berusaha menyakinkan orang tuanya dan kerabatnya bahwa Dimas Kanjeng adalah menipu. Namun, ibunya memintanya untuk bersabar dan akan berubah menjadi uang.

“Nyatanya sampai sekarang ya masih tetap seperti ini,” katanya sambil menunjukkan barang bukti pemberian dari Dimas Kanjeng.

Najmur mengatakan, emas batangan tersebut juga sudah diuji di toko emas di Makassar.

“Sudah diuji, tapi palsu semua,” kata dia.

Selain menyetorkan langsung ke Dimas Kanjeng di padepokannya di Probolinggo, orang tua dan kerabatnya juga pernah menyetorkan uang ke Dimas Kanjeng melalui transfer.

“Ada yang ditransfer, ada yang dijemput sama orang suruhannya (Dimas Kanjeng),” sebut Najmur.
(roi/fdn)

 

Tentang Aturan Pengeras Suara di Masjid

http://m.detik.com/news/berita/3265327/tentang-aturan-pengeras-suara-di-masjid#

Kapan bisa beres ya ? Sangat memalukan seakan akan bangsa ini tidak punya kuping !

Kocak. bangsa ini.. demen mentertawakan si Bolot.. padahal dirinya yang sangat bolot!

Punya Kuping  hanya dijadikan pajangan macam pangsit ! Kelakuan  macam kerbau budeg( karena congean dan jarang dikorek)  Jadi tidak heran semua pemberitahuan  harus diharus  pake TOA..

Kasus Tanjungbalai, JK: Jangan Setel Loudspeaker Terlalu Lama

KAMIS, 04 AGUSTUS 2016 | 14:47 WIB

Kasus Tanjungbalai, JK: Jangan Setel Loudspeaker Terlalu Lama

REUTERS/Danish Siddiqui

TEMPO.COJakarta – Wakil Presiden Jusuf Kalla kembali mengingatkan pentingnya pengaturan pengeras suara (loudspeaker) di masjid. Dia meminta penyetelan rekaman pengajian lewat loudspeaker masjid tidak usah terlalu lama.

“Ada masalah-masalah terjadi pekan lalu, masalah teknis yang selalu kita bicarakan disebabkanloudspeaker,” kata Kalla, Kamis, 4 Agustus 2016, saat membuka seminar peran masjid dalam menangkal pemikiran menyimpang, di Aula Buya Hamka, Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta.

Kalla mengatakan hal itu menyinggung kasus pembakaran tempat ibadah di Tanjungbalai, Sumatera Utara. Kasus tersebut dipicu protes seorang warga yang merasa terganggu oleh suara azan dari loudspeaker masjid.

Menurut Kalla, pengurus masjid kerap menyetel rekaman pengajian menjelang azan dalam durasi yang cukup lama, yaitu sekitar 25 menit. Padahal, kata dia, jemaah yang akan datang ke masjid tidak memerlukan waktu hingga setengah jam. “Pengajiannya setengah jam, padahal orang datang ke masjid hanya lima menit, masak pengajiannya setengah jam,” tuturnya.

Kalla mengatakan jumlah masjid di Indonesia adalah yang terbanyak di dunia. Jumlahnya mencapai sekitar 800 ribu masjid. Artinya, rata-rata untuk setiap 250 orang Islam di Indonesia ada masjid. Jumlah masjid pun berdekatan. “Di Jakarta, setiap 500 meter ada masjid,” katanya.

Berdasarkan hal itu, waktu tempuh jemaah ke masjid tidak akan lama, yaitu sekitar lima menit. Suara loudspeaker, Kalla melanjutkan, seharusnya juga tidak terlalu besar agar tidak mengganggu banyak orang.

AMIRULLAH